EventAceh I Aceh - Ada musisi yang menciptakan lagu. Ada penyanyi yang cukup datang ketika proses rekaman dimulai. Ada videografer yang bertugas mengabadikan gambar, lalu editor menyelesaikan pekerjaan di depan komputer. Namun, Bang Pion memilih membuat semuanya sendiri!
Pria bernama asli Walidin itu dikenal sebagai salah satu seniman multitalenta dari Aceh. Selain menyanyi dan menciptakan lagu, ia juga berkecimpung dalam dunia videografi dan penyuntingan video. Kemampuan menjalankan berbagai peran tersebut membuat sosok Bang Pion menarik untuk diperhatikan, terutama ketika berbicara tentang produktivitasnya dalam menghasilkan karya.
Belakangan muncul cerita bahwa Bang Pion mampu menghasilkan empat lagu dalam satu minggu. Jika angka tersebut benar-benar tercapai, berarti dalam tujuh hari rata-rata lahir satu lagu setiap kurang dari dua hari. Angka itu cukup menarik, terlebih proses kreatif Bang Pion tidak berhenti pada penulisan lagu. Ia menulis, menyanyi, mengambil gambar, sekaligus mengedit hasil produksinya.
Empat lagu dalam seminggu tentu bukan berarti empat lagu selesai hanya dalam hitungan beberapa jam. Ada proses mencari ide, menulis lirik, menentukan aransemen, merekam vokal, melakukan penyuntingan suara, hingga menyiapkan materi visual. Namun, bagi kreator independen seperti Bang Pion, perkembangan teknologi membuat banyak pekerjaan tersebut dapat dilakukan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada sebuah tim produksi besar.
Dimunculkannya sosok Bang Pion menjadi menarik. Ia tidak hanya berada di kamera depan sebagai musisi, tetapi juga dapat berada di kamera belakang sebagai videografer. Setelah proses pengambilan gambar selesai, pekerjaan kemudian dipindahkan ke meja editing. Satu orang dapat mengganti peran berkali-kali untuk memastikan sebuah karya dapat selesai dan dipublikasikan.
Dalam dunia musik modern, batas antara penyanyi, pencipta lagu, videografer, dan editor memang semakin kabur. Seorang seniman kini memiliki kesempatan untuk mengembangkan karyanya dari awal hingga dipublikasikan secara mandiri. Bang Pion berada dalam ekosistem tersebut.
Sejumlah karya musiknya telah dirilis di platform digital, antara lain “Cincin Permata”, “Engkau Duakan Aku”, “Dompet Kosong”, “Gadoeh Harapan”, dan “Es Mele Kete”. Produktivitas tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah empat lagu dalam sepekan merupakan target rutin atau hanya terjadi pada periode ketika ide sedang deras-derasnya.
Sebab, dalam urusan kreativitas, manusia tidak bekerja seperti mesin fotokopi. Ada hari ketika satu bait lirik terasa sulit ditemukan, tetapi ada pula hari ketika ide datang bertubi-tubi. Bagi seorang seniman, produktivitas bukan semata-mata persoalan jumlah karya yang dihasilkan, melainkan juga bagaimana menjaga proses kreatif tetap berjalan.
Kalau benar empat lagu dalam seminggu, Bang Pion tentu harus membagi waktunya dengan cukup ketat. Pagi bisa menjadi pencipta lagu, siang menjadi penyanyi, sore memegang kamera, dan malam membuka komputer untuk mengedit. Besoknya, semua proses itu bisa diulang kembali. Kalau masih sempat tidur, tentu saja.
Namun, justru di situlah menariknya perjalanan kreatif Bang Pion. Produktivitasnya bukan hanya tentang berapa banyak lagu yang lahir, tetapi tentang bagaimana seorang seniman daerah mengambil banyak fungsi produksi ke dalam tangannya sendiri. Ia tidak sekadar menciptakan karya, tetapi juga ikut mengurus bagaimana karya tersebut terdengar dan terlihat sebelum sampai ke penikmatnya.
Pada akhirnya, pertanyaan “benarkah Bang Pion mampu menghasilkan empat lagu dalam seminggu?” bukan sekadar soal angka. Yang lebih penting adalah proses di balik angka tersebut. Jika empat lagu itu benar-benar lahir dalam satu pekan melalui proses penulisan, produksi, rekaman, hingga penggarapan visual, maka produktivitas tersebut layak menjadi bagian dari cerita perjalanan kreatif Bang Pion.
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin memudahkan seniman untuk memproduksi dan mempublikasikan karya secara mandiri, Bang Pion menunjukkan bahwa seorang kreator tidak selalu harus menunggu datangnya sebuah tim besar untuk berkarya. Satu orang dapat menjalankan banyak peran, dari menciptakan lagu hingga memastikan karya tersebut siap dinikmati publik. Dan jika dalam satu minggu benar-benar lahir empat lagu, mungkin pertanyaan berikutnya bukan lagi bagaimana Bang Pion berkarya, melainkan kapan ia punya waktu untuk tidur.
